Tadabbur Qur’an Surah Al Fatiha Ayat 1-3

0
97
Foto. Google

Penulis : Dr. M. Firman, MA

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ (1) اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَۙ (2) الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِۙ (3)

Al Fatihah, 1-3

Surah Al-Fatihah merupakan surat pembuka yang mencerminkan kandungan menyeluruh pesan moral yang terdapat dalam Alquran. Surat tersebut terdiri dari 7 ayat dan memiliki makna yang dalam serta mengungkap berbagai sisi kehidupan duniawi dan ukhrawi; alam fisik maupun non fisik dan hubungan antar sesama makhluk maupun hubungan makhluk dengan Khaliknya, Allah Pencipta alam semesta.

Dalam ayat pertama, secara khusus Allah isyaratkan kepada hambaNya yang berpredikat “Muslim” untuk memulai segala pekerjaannya dengan mengatasnamakan Allah, yaitu dengan ungkapan “bismillahirrahmanirrahim” yang artinya “dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang”. Allah dalam hal ini mempertegas eksistensi Nya sebagai Penguasa, Pencipta (Khaliq), Pemberi rezeki Yang Maha Kasih dan Maha Penyayang sehingga menjadi tempat semua makhluk bergantung (al-Shamad). Dengan begitu sudah semestinya seorang Muslim menyandarkan dirinya, berharap dan memohon atas segala yang akan diperbuatnya untuk mendapatkan kasih dan sayang dari Allah berupa limpahan karunia, rahmat dan ridhaNya.

Kasih sayang Allah bagi para hambaNya terlihat jelas pada penciptaan langit dan bumi yang banyak mengandung misteri namun penuh pesona; mengagumkan dan indah. Bagaimana pun Allah mengajarkan manusia untuk bersyukur dan memujiNya (bertahmid). Tidak ada suatu zat pun yang layak untuk dipuji kecuali pujian itu dikembalikan kepada Allah Yang Maha Terpuji. Pujian akan kecantikan seseorang misalnya, sejatinya bukanlah pujian itu menjadi milik pribadinya, namun ditujukan kepada Allah, Pemilik Yang Maha Terpuji.

Segala puji bagi Allah, betapa Allah Maha Pencipta dan Pemelihara alam jagad beserta isinya. Alam raya yang diperuntukkan bagi kehidupan manusia pada khususnya, merupakan ayat-ayat kauniyah yang harus dipahami dan dipelajari demi kesejahteraan hidup mereka. Mulai dari bagian terkecil seperti atom hingga yang terbesar seperti matahari dan bintang, kesemuanya menjadi satu kehidupan yang sistemik dalam kesatuan ego system. Keteraturan gerak benda-benda angkasa, planet, bumi, bulan, bintang dan matahari, bahkan pergerakan asap, kabut dan awan yang kadang berwarna warni yang disebut pelangi muncul menghiasi cakrawala.

Lautan yang penuh misteri namun memberikan pesona alam yang indah dan mengagumkan. Demikian halnya dengan alam manusia, flora dan fauna; berbagai jenis, sifat dan karakter kehidupan yang menakjubkan memberikan kesan dan pesan tersendiri, terkhusus bagi makhluk yang berakal untuk bertafakkur, tadabbur dan tadzakkur. Bertafakkur merupakan aktivitas berfikir secara mendalam melalui tadabbur, yaitu penelaah dan pemahaman terhadap alam tercipta sehingga membawa pelakunya untuk berdzikir atau tadzakkur kehadirat Ilahi Rabbi. Maka disinilah kesadaran manusia timbul sehingga terkoneksi antara dirinya dengan Khaliqnya melalui aktivitas logika tadi.

Pada ayat selanjutnya, Allah kembali memperkenalkan sifat dan nama baikNya dengan ungkapan “Yang MahaPengasih dan Maha Penyayang” (ar-rahman dan ar-rahim). Kasih sayang Allah terhadap hamba-hambaNya tidak pandang bulu dan dari golongan atau jenis makhluk yang mana. Semua mendapat kasih sayangNya melalui penciptaan langit,bumi dan seisinya sehingga masing-masing memiliki peran dan fungsinya untuk saling melengkapi, saling menjaga dan memelihara. Hujanmisalnya, Allah turunkan untuk kepentingan umat manusia, tumbuhan dan bahkan binatang. Hal itu mengindikasikan betapa kasih sayang Allah tercermin melalui segala ciptaanNya yang sangat berharga dan tidak ada yang sia-sia. Bagi setan sekalipun, kasih sayang Allah ditunjukkan dengan masih diberikannya kesempatan hidup walau untuk menggoda manusia, padahal setan telah inkar dan sombong terhadap perintah Allah.

Secara khusus sesunggunya Allah memberikan isyarat kepada manusia, terutama umat Islam agar mereka meneladani dan mengejawantahkan sifat-sifat Allah “ar-rahman dan ar-rahim”. Karena memang Allah juga telah meniupkan sifat-sifat Nya kepada manusia sebagaimana tercatat dalam firman Nya yang artinya “Maka apabila telah Ku sempurnakan kejadiannya dan Ku tiupkan kepadanya ruh-Ku”, Qs. Shaad:72. Ruh yang ditiup kan itu merupakan daya kekuatan jiwa manusia sehingga kelak mereka bersikap dan berprilaku senantiasa berada dalam koridor sifat-sifat Allah, dan khususnya merealisasikan dalam bingkai sifat kasih sayang terhadap sesama makhluk.

Kesimpulan yang dapat kita ambil, yaitu
1. Memulai pekerjaan dengan menyebut asma Allah; bismillahirrahmanirrahim.
2. Senantiasa bersyukur kepada Allah dan segala pujian hakekatnya milik Allah maka bertahmid adalah salah satu sarana berkomunikasi dengan Allah.
3. Alam semesta dengan keteraturan gerak merupakan sunnatullah sebagai sarana untuk berfikir, berilmu dan taqarrub kepada Allah.
4. Segala tindak perbuatan selalu berada dalam bingkai kasih sayang sebagai realisasi dari sifat-sifat Allah.

Wa’tabiruyaa Ulil Abshar

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here