Pergi Untuk Kembali

0
90

Penulis : B. Santoso

Sejak tergelincirnya Nabi Adam AS dan Siti Hawa dari surga ke muka bumi akibat tipu daya Iblis la’natullah alaihi maka Allah SWT menfirmankan kepada Nabi Adam AS bahwa kehidupan di dunia itu bukan selamanya tetapi untuk waktu yang telah Allah SWT tentukan.

“Turunlah Kamu! Sebagai Kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan” (QS. Al-Baqarah: 36).

Digarisbawahi dari QS. Al-Baqarah: 36 itu pada dua penggalan kalimat “tempat tinggal dan kesenangan” dan kalimat “di bumi sampai waktu yang ditentukan”. Pemaknaan secara bebas dari keduanya bahwa bumi berfungsi sebagai tempat tinggal bagi Nabi Adam AS dan Siti Hawa berserta keturunannya, dilengkapi dengan kesenangan. Namun perlu diingat tempat tinggal dan kesenangan itu tidak kekal abadi, melainkan terbatas untuk waktu yang telah ditentukan. Ketika batas waktu itu habis maka harus kembali ke tempat semula, yakni surga.

Allah SWT dengan sifatnya yang Maha Pengasih dan Penyayang tidak membiarkan Nabi Adam as dan Siti Hawa beserta keturunannya hidup di muka bumi begitu saja, namun dilengkapi dengan “kesenangan” dengan bentuk dan jumlah yang tak terhitung. Apa yang ada diatas bumi serta alam semesta dibenarkan untuk dinikmati. Tetapi perlu diingat bahwa kenikmatan itu tidak kekal abadi, melainkan ada batas waktunya, sehingga sepanjang hidup di bumi harus waspada agar kesenangan itu tidak membutakan pandangan lurus kepada Allah SWT.

Ayat itu juga memberikan peringatan agar manusia tidak terlena, tidak terbuai ataupun tidak lalai menjadikan kesenangan itu sebagai tujuan hidup di bumi. Allah mempersilahkan merasakan kesenangan yang tersedia tetapi jangan sampai melampaui batas dan sampai-sampai lupa bahwa suatu waktu akan kembali ke surga sebagai kampung yang sebenarnya dan kekal abadi. Oleh karena kesenangan di bumi diberikan batas maka kesenangan di bumi harus dimaknai bukanlah kesenangan yang sesungguhnya, tetapi sebatas memenuhi kebutuhan hidup di bumi.

Kesenangan itu menjadi titik rawan bagi manusia, bisa menghanyutkannya hingga melupakan asal usulnya. Iblis yang menyimpan dendam dengan kejeniusannya menyusup dan menggoda manusia melalui kesenangan yang ada itu. Sungguh halus dan tanpa terasa tipu dayanya masuk menyusup ke dalam jatung. Iblis la’natullah alaihi memanfaatkan hawa nafsu dalam diri manusia yang pontensial untuk lalai. Targetnya manusia tersesat tidak tahu lagi jalan pulang ke surga, sementara untuk pulang diperlukan bekal persiapan berupa taqwa.

Manusia harus senantiasa berpegang teguh dengan peringatan-peringatan yang Allah SWT sampaikan melalui nabi dan rasul. Utamanya istiqomah menginsyafi tujuan penciptannya adalah untuk menyembah, mengabdi kepada Allah SWT sang khaliq. “Dan tidak Aku (Allah SWT) ciptakan bangsa jin dan manusia kecuali untuk menyembah-Ku” (QS. Adz-Dzariat: 56). Peringatan agar tidak terbuai dengan tipu daya iblis la’natullah alaihi, Allah SWT berkali-kali menyampaikannya melalui Al-Quran dan Hadist Rasulullah Muhammad SAW. Sampai-sampai Allah SWT firmankan di dalam Al-Quran tentang kalimat iblis la’natullah alaihi yang akan terus menerus menggoda atau menggelincirkan anak cucu Adam AS dari tuntunan Allah SWT dan Rasul-Nya.

قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ, ثُمَّ لَآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ ۖ وَلَا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Iblis menjawab; “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalangi mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka, dari kanan dan kiri mereka dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).” (Al-A’raf : 16-17)

قَالَ فَبِعِزَّتِكَ لَأُغْوِيَنَّهُمْ أَجْمَعِينَ

Iblis berkata: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya. (QS. Ash-Shad: 82)

Allah SWT yang maha berkehendak, tentunya tidak menginginkan manusia menjadi teman setia Iblis la’natullah alaihi di dunia ini hingga di neraka jahanam kelak, sehingga tuntunan secara paripurna dihadirkan di tengah kehidupan manusia. Allah SWT yang maha pencipta juga telah menyempurnakan penciptaan manusia dilengkapi dengan hati dan akal. Keduanya  sebagai alat untuk mempelajari tuntunan, untuk menfilter, untuk perfikir dan memutuskan langkah yang akan diambil agar tidak tersesat dari tujuan penciptaannya. Dan tidak lupa bahwa pada suatu waktu manusia akan kembali kepada surga yang telah disediakan Allah SWT dan mustahil bagi Allah SWT mengingkari janji-Nya, melainkan banyak manusia yang abai akibat lebih mengambil kesenangan yang bersifat sementara itu.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here