Kado Terakhir Untuk Ibu dan Ayah

0
101
Foto. Google

Foto. Google
Penulis : Atika Ramadhani

Di sebuah Sekolah Dasar favorit terdapat salah seorang siswi kelas 6 yang bernama Loly, Loly terlahir dari keluarga kaya, Ayah dan Ibu Loly bekerja sebagai Dokter, Loly merupakan anak tunggal dari keluarga tersebut. Tapi Loly memiliki sifat egois dan manja, disetiap pagi saat ia bangun harus tersedia semuanya, dan saat sarapan dia hjarus disuapin dan dipakaikan sepatunya. Kalau ada kesalahan sedikit saja dia langsung marah. Apa yang Loly inginkan semuanya harus dituruti.

Dan suatu pagi saat Loly sudah pergi ke sekolah, Ayah dan Ibu Loly juga pergi menaiki Mobil. Saat di pertengahan jalan Ayah Loly membuka pembicaraan dengan ibunya. “Bu, Ibu memikirkan hal yang sama tidak tentang Loly” Tanya ayahnya. “Sepertinya iya yah” jawab ibunya. “Bu , Ayah gak ingin anak kita satu-satunya menjadi anak yang gak bisa apa-apa sampai besar nanti” timpal ayah Loly. “Iya yah, ibu juga berpikir seperti itu, kita harus bisa mengubah sifat egois dab manja yang ada dalam diri Loly”ungkap ibunya. “Bu, gimana kalau Loly kita masukkan ke Pesantren saja” kalimat ayahnya yang memberi solusi. “Ibu setuju yah, mungkin dengan Loly bersekolah di Pesantren, dia bisa menjadi mandiri dan bertanggungjawab” lanjut Ibunya mengamini. “Kebetulan ayah punya kenalan yang memiliki pesantren, coba nanti ayah hubungi dan membicarakan masalah ini” sambut ayahnya. Lalu mereka pun melanjutkan perjalanan dan bekerja untuk hari ini.

Hingga pada Malam hari, keluarga bahagia ini berkumpul di rumah, melanjutkan makan malam bersama. Di sela-sela makan, ayah Loly membuka pembicaraan malam itu. “Loly sebentar lagi kamu ujiankan?” Tanya ayahnya. “iya yah” jawab Loly. “Loly, selesai sekolah dasar ini, kamu berencana melanjutkan kemana?, Ibu sarani lanjut ke pesantren saja” timpal ibunya. “Apa? Pesantren?. Gak, Loly gak mau masuk pesantren” bantah Loly. “Ayah sudah memikirkan hal ini dari lama dan papa sudah membuat keputusan agar kamu melanjutkan ke pesantren” Ayah menjelaskan. Malam itu berakhir dengan keputusan yang dijunjung tinggi oleh Ayah Loly.

Waktu terus berjalan hingga sampailah waktu dimana Loly berserta Ayah dan Ibu mengemas barang-barang perkakas Loly untuk dibawa ke sekolah baru. Cita-cita dari Ayah dan Ibu Loly untuk memasukkan Loly ke Pondok Pesantren. Berbeda dengan Loly yang memasang wajah tidak rela untuk pergi meninggalkan rumah dan berpisah jauh dari Ayah dan Ibunya. Perjalanan ke Pesantren memakai waktu sedikit lebih lama, Ayah, Ibu dan Loly yang hanya berangkat. Sesampai di depan gerbang Pesantren. Ibunya mengantarkan Loly ke kamar santri baru, sebutan Loly pun sudah berganti, kata santri sudah tersemat mulai sejak hari itu karena ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantre. Ayahnya hanya menunggu di ruang tunggu dan menyelesaikan administrasi yang perlu diselesaikan. “Bu, coba lihat kamarnya kecil dan Loly harus berbagai dengan orang lain, ayok Bu kita pulang saja, Loly tampaknya tidak akan bisa bertahan disini” ungkp Loly membuka percakapan dengan ibunya. “Ini akan menyenangkan Loly dan kamu akan menikmati, Ibu yakin itu” jawab Ibunya menyakinkan. Percakapan berhenti karena waktu pengantar sudah selesai. Loly mengantarkan Ayah dan Ibunya sampai di gerbang sekolah. Seperti ritual pada umunya, sebelum pergi, Ayah dan Ibunya memeluk dan harus menguatkan diri untuk melepaskan anaknya. Tanpa disadari Loly sudah menangis tak karuan, Ayah dan Ibunya mencoba menguatkan serta menghibur.

Setelah hari itu, Ayah dan ibunya mengunjungi Loly setiap sekali dalam seminggu. Hingga sampai di waktu 3 bulan tepat, tak ada perubahan yang signifikan pada sikap manja Loly terlihat dari Loly tidak mengikuti peraturan Pesantren, setiap ada sesi pemeriksaan perlengkapan Loly lagi-lagi dihukum. Hingga tiba di satu waktu Nenek Loly datang berkunjung, kedatangan ke Malaysia salah satunya untuk melihat cucunya yang bersekolah di Pondok Pesantren, Loly masih saja memasang wajah sedih jika ada yang mengunjungi dirinya. “Nenek kok datang? Sendiri malah, Ayah dan Ibu kok tidak ikut menemani?” Tanya Loly menyelidik saat Neneknya sampai di Pondok Pesantren. “Nenek kan berdua, itu sama supir” jawab Nenek seakan menutupi. “Iya nek, maksudnya Ayah dan ibu kemana?” Tanya Loly semakin menyelidik. “Maaf Loly, nenek harus jujur, Ayah dan Ibu mu sedang dirawat di Rumah Sakit, mereka mengalami kecelakaan” penjelasan neneknya yang membuat hati Loly berantak tak karuan. Neneknya pun langsung memeluk, tak sanggup melihat cucunya menahan sakit. “Lalu, bagaimana keadaan mereka” Tanya Loly dengan isak tangis. “Ibu mu sedang di rawat di UGD, ayah mu belum tau gimana kejelasannya, karena Nenek buru-buru kemari” jelas neneknya.

Setelah kabar itu terdengar di telinga Loly, Nenek dan Loly pun bergegas untuk menuju ke Rumah Sakit, sebelumnya perizinan untuk pulang sudah diurus sampai selesai dengan supirnya. Perjalanan yang sangat menyesakkan dengan tangisan Loly yang tak terhenti. Hingga sampai di depan Rumah Sakit, tangis Loly sudah tak terbendung lagi. Gadis kecil ini harus menahan beban yang sangat menyakitkan, ternyata saat Nenek dan Loly perjalanan ke Rumah Sakit, Ayahnya sudah lebih dahulu menghadap ke Ilahi. Sesampai di Unit Gawat Darurat (UGD), dokter menghampiri neneknya menyatakan maaf karena tidak bisa menahan lebih lama lagi kehidupan Ayah Loly. Mendengar kalimat itu, Loly seakan kehilangan nafas dari tubuhnya. Seakan menghibur diri, ia yakin Ibunya tak akan meninggalkannya sendiri. Lagi-lagi seperti pedang yang merobek hatinya, kabar duka untuk kedua kalinya bahwa hari ini adalah hari terakhir ia melihat jasad Ayah dan Ibunya. Loly seakan ikut mati, air matanya tak bisa keluar lagi, ia mengalami kehilangan arah, ia linglung, ia merasa sendiri. Hari itu ia merasa tak memiliki siapa pun. Ia merasa sendiri, hingga di pusaran terakhir kedua orang tuanya. Raungan yang dikeluarkan Loly dari mulutnya membuat semua pelanyat menangis. Kini anak manja ini akan hidup sendiri, ia akan melanjutkan hidup tanpa motivasi lagi dari kedua orang tuanya.

Kejadian yang menyayat hati Loly sudah berjalan tiga hari tapi keadaan seakan kosong. “Loly, nenek ingin berbicara pada mu” perkataan Neneknya membunyarkan lamunan Loly yang asik melihat ikan yang berenang di kolam belakang rumah Loly. “hmmmmm” hanya suara malas yang keluar dari mult Loly, tapi lagi-lagi selama tiga hari seakan matanya tak pernah absen dengan air yang terus mengalir. “Nenek pernah menghubungi Ibu mu, entah kenapa pada saat itu Ibu mu ingin sekali mengirim surta, padahal zaman sekarang sudah canggih, Nenek rasa ibu mu bercanda tapi kali ini Ibu mu serius, Nenek melihat surat ini di dalam tasnya, Nenek harap kamu membacanya dan bisa membuat rasa rindu mu terobati” penjelasan Nenek ini membuat Loly menoleh dan menggapai surat itu di tangan nenek nya.
Tapi tak langsung Loly buka, tangan dan hati nya belum sanggup untuk memulai membacanya. Surat itu masih ia simpan, hingga hari ke 8 Loly pun harus kembali ke Pondok Pesantren yang ditemani oleh Neneknya. Setelah mengantarkan Loly, neneknya pun bergegas pulang dan memutuskan untuk menetap di Indonesia, menemani cucu nya yang masih usia remaja. Saat azan Isya berkumandang, Loly harus bergegas ke mesjid untuk memulai harinya sebagai santri yang menggandeng kalimat yatim dan piatu. Surat yang belum di bacanya itu masih tetap dibawanya, disispkan di Alquran yang sering ia bawa. Setelah shalat Isya selesai dan teman-temannya pergi untuk bergegas ke kamar, beda dengan Loly yang masih bertahan di Masjid, ia memilik pojokan yang sunyi dari santri lain untuk membaca surat terakhir dari ibunya.

“Assalamualaikum….. Gimana pesantrennya? Seru kan Loly, banyak temennya. Entah kenapa Ibu ingin sekali mengirim mu surat padahal bisa saja ibu datang ke pesantren mu. Pertama, ibu mau minta maaf karena memasukkan mu ke pondok pesantren. Ibu mau, kamu menjadi pribadi dewasa saat ada ataupun tidak ada kami, ibu mau kamu lebih dari kami yang paham agama. Ibu mau kamu menjadi orang yang mandiri, yang bisa menjaga diri walaupun tak ada kami di samping mu. Masuk pesantren adalah langkah yang baik menurut ibu. Cita-cita ibu yang terakhir, kamu bisa menjadi penolong kami di akhirat nanti.
Suratnya ibu tulis dengan segenap rindu. Entah kenapa ibu sangat merindukan Loly.
Salam kangen dari Ayah dan Ibu”. Dari awal hingga akhir membaca surat, Loly menangis tak karuan, ada rindu di dalam hatinya, ada yang tak bisa terucap. Selesai itu, Loly pergi ke kamar untuk melanjutkan kegiatan dan berusaha memulai hari esok dengan semangat.

Matahari mulai naik, kumandang adzan sudah lama berlalu, para penuntut ilmu sibuk bersiap untuk memulai Senin. Tak berbeda dengan Loly yang bergegas untuk memulai hari. Ia masuk ke kelas yang sesuai jadwal roster yang tertempel di pintu lemarinya.

“Salah satu hadiah yang paling berharga untuk kedua orang tua apabila seorang anak menghafalkan seluruh Ayat suci Alquran, dengan begitu kelak di akhirat ia bisa memberikan mahkota kepada kedua orang tuanya, keistimewaan yang lainnya adalah bisa membawa 10 orang yang disayangnya untuk berkumpul di Syurga” penjelasan seorang ustadz di depan membuat mata dan hati Loly terbelalak. Seakan secerca harapan bisa ia berikan kepada Ayah dan Ibunya walaupun jiwa dan raga tak lagi bisa dilihatnya.
Sejak hari itu, Loly berubah 360 Derajat, hari-harinya diisi dengan menghafalkan Alquran dan menyetorkan kepada guru yang bersangkutan. Seperti tersambar petir semangat, kini Loly menjadi orang yang penyemangat, karena itulah kado terakhir yang akan diberikan Loly kepada Ayah dan Ibunya.
***Selesai***

Hikmah yang disimpulkan penulis dari cerpen yang penulis saat menjadi posisi Loly sekarang, ditinggalkan orang yang sangat disayang. Tapi sebelum itu terjadi, pertanyaan yang mudah untuk kita. “Apa yang sudah engkau berikan kepada Ayah dan Ibu mu?”. Dari setiap kita punya jawaban masing-masing tapi apakah sudah kita laksanakan?. Dengan mengeluh hidup di lingkungan pesantren tak membuat Ayah dan Ibu bangga. Harapan mereka besar untuk kita, bangun pagi dan terlelap malam, semua dilakukan untuk kita yang sedang belajar.
Disaat memiliki orang tua yang lengkap, berikan yang terbaik dan jangan pernah sia-siakan mereka. Manfaatkanlah waktu untuk terus berbakti kepada mereka. Karena kematian itu pasti dan sudah ditetapkan Allah. Mati tak memandang kaya, dan mengenal sehat dan tak mengerti kuat. Tapi berdoalah, agar kita disatukan di Syurga bersama kedua orang tua dan orang-orang yang disayang.
Tak ada waktu terlambat, mulai sekarang marilah berubah, jaga adab dan peliharalahn sopan santun. Mulailah tegakkan kepala saat guru menerangkan, buka mata saat ilmu disampaikan. Kamu bisa membaca hari ini, karena guru yang saban hari saban menyikapi tingkah laku mu. Apakah kamu harus menjadi Loly dalam cerita dulu agar penyesalan datang? Cobalah berpikir mulai sekarang. Karena semua tak bisa jadi bahan candaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here